♥♥♥♥♥ Condong mato ka nan rancak condong salero ka nan lamak rancak di awak katuju di urang ♥♥♥♥♥

31/08/09

Jembatan akar

Wisata kali ini cukup unik dan menarik. Jembatan akar merupakan salah satu wisata di daerah Sumatera Barat. Objek wisata ini terletak kurang lebih 88km ke arah Selatan dari kota Padang. Kira-kira +/- 5km sebelum Painan dari perjalanan Padang - Teluk Bayur - Painan, Kec. Bayang, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat, anda akan bertemu dengan pertigaan jalan menuju Jembatan Akar. Anda belok kiri di sini, dan mengikuti jalan kecil sepanjang +/- 18 km yang nantinya akan anda temukan sebuah sungai dengan lebar sekitar 30-35m yang bening, berarus deras namun amat menyejukkan di selingi dengan batu-batu besar.


Diatas sungai inilah membentang sebuah jembatan yang terkenal sebagai salah satu objek wisata andalan Sumatera Barat, yang dinamai oleh penduduk setempat dengan nama Jambatan Aka (Jembatan Akar). Sesuai dengan namanya, jembatan ini terbuat dari akar-akar (aka) dua pohon yang berseberangan. Panjang jembatan sekitar 30 meter, lebar lantai satu meter, dan tinggi dinding pengaman kurang lebih satu meter. Ketinggiannya dari dasar sungai sekitar enam meter.

Karena kawasan ini di anggap keramat, maka menjelang puasa banyak yang datang ke kawasan ini untuk balimau (menyucikan diri menjelang puasa) agar amal selama puasa dapat diterima oleh sang pencipta.

Jembatan ini menghubungkan Dusun Pulut-Pulut dan Lubuk Silau di Koto Bayang di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) yang terpisah oleh Sungai Batang Bayang yang permukaannya terletak sekitar 5-6 meter dari dasar jembatan. Air sungai ini berasal dari air Danau Si Kembar yang berada di kawasan Kabupaten Solok. Di tepi sungai terdapat bebatuan besar yang cocok untuk bersantai.

Menurut cerita masyarakat setempat, awalnya kedua dusun itu hanya dihubungkan dengan jembatan gantung dari bambu. Konon tokoh adat di kawasan itu yang bernama Pakih Sokan menanam dua pohon beringin di kedua tebing yang saling berhadapan. Pakih Sokan bernazar akan menggelar ritual siram darah kambing jika akar-akar kedua pohon beringin itu menyambung.

Setelah waktu berselang, entah bagaimana, akar kedua pohon beringin itu pun saling bertaut dan Pakih Sokan pun sangat bersuka cita. Lantas, Pakih Sokan menepati janjinya dan menggelar ritual potong kambing serta menyiram pertautan akar itu dengan darah kambing setiap tahunnya.

Namun, hubungan antara sejarah jembatan ini dengan mitos enteng jodoh tak terlalu jelas. Mitos tersebut timbul karena ketakjuban masyarakat terhadap pertautan akar dua pohon beringin yang terletak berseberangan bahkan menjadi sangat kokoh hingga bisa dilalui.

"Namun untuk pengamanan, agar Jembatan Akar itu tidak putus, kini dipasang tali penyangga yang terbuat dari baja. Dalam waktu dekat, lalu lintas masyarakat membawa hasil bumi yang selama ini memanfaatkan Jembatan Akar akan dialihkan ke jembatan gantung yang akan dibangun tidak jauh dari lokasi Jembatan Akar.

Sumber : http://liburan.info/content/view/213/43/lang,indonesian/
Selengkapnya...

26/08/09

Gulai itik cabe ijo

Di bulan ramadhan gulai itik cabe ijo ini merupakan salah satu pilihan khas masakan Bukittinggi Sumatera Barat. Masakan gulai itik ini tidak asing lagi di daerah Bukittinggi. Karena terbuat dari bahan dasar daging itik (bebek) yang di gulai dengan menggunakan cabe ijo.


Masakan ini juga memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) karena diadakannya Festival memasak sebanyak 1.001 ekor itik menjadi masakan khas "gulai itiak hijau" (gulai itik hijau) oleh 3.003 orang peserta dalam rangkaian kegiatan "Rang Minang Baralek Gadang" (pesta besar orang Minang).

Untuk lebih mudahnya menemukan masakan gulai itik cabe ijo ini anda bisa ke salah satu daerah di Bukittinggi yaitu ngarai sianok. Jadi untuk menuju kesana kita harus melewati jalan Panorama yang tidak jauh dari jam gadang, kemudian sekitar 3 km setelah melewati Panorama akan ketemu simpang empat, kita mengambil jalan belok kekiri yang jalurnya menurun menuju dasar ngarai. Jalannya lumayan besar namun berkelok-kelok. Hampir sampai ke jembatan di dasar ngarai terlihatlah plang kecil yang menunjukan keberadaan warung yang menjual gulai itik cabe ijo ini.

Apa anda cukup penasaran dengan rasanya, hmm anda silahkan datang ke daerah Bukittinggi Sumatera Barat untuk mendapatkan cita rasa asli buatan orang minangkabau.

Selengkapnya...

25/08/09

Lamang Tapai

Salah satu makanan khas Minangkabau adalah lamang tapai. Makanan ini tidak asing lagi bagi masyarakat minangkabau. Lamang tapai ini tidak cuma di temukan pada bulan Ramadhan saja seperti di hantarkan pada saat manjalang mintuo, tetapi juga di buat pada acara-acara seperti acara keagamaan, acara pernikahan dan lainnya karena makanan ini di anggap istimewa.


Lamang terbuat dari beras ketan yang di masak dengan santan dan di masak dalam bambu muda . Bahan utamanya adalah beras ketam putih, santan kelapa, daun pandan sedikit garam. Beras ketan di cuci bersihkan dulu dan di masukan kedalam ruas bambu muda yang terlebih dahulu di lapisi dalamnya degan daun pisang kemudian baru dituankan santan ke berasnya dan di bakar dengan bara api, di jaga jangan samapai ruas bambu terbakar. Tapai adalah tape beras kertan hitam yang di buat dengan memfregmentasikan beras ketan dengan ragi.

Perpaduan rasa legit dari lamang dan manis menggigit dari tapai menjadikan makanan ini terasa maknyuuss. Walaupun di jaman sekarang tidak semua rumah di Sumatera Barat menghidangkan makanan ini karena proses pembuatannya yang cukup rumit, tapi kita masih bisa menemukannya di pasar-pasar di Sumatera barat.

Dan apabila anda jalan-jalan ke daerah danau singakarak solok Sumatera barat dari arah padang panjang anda juga menemukan para pejual bermacam lamang. Tidak cuma dari beras ketan putih saja tetapi ada tambahan pisang di dalamnya dan lamang dengan menggunakan beras ketan merah.

Selengkapnya...

24/08/09

Pabukoan

Pabukoan merupakan istilah dari bahasa minangkabau atas makanan yang dimakan sewaktu berbuka puasa. Tidak terasa bulan Ramadhan kembali datang. Di ranah minang tidak asing lagi untuk menyediakan pabukoan saat berbuka puasa.


Dalam tradisi minangkabau pabukoan ini tidak hanya di suguhkan pada saat bersantap buka puasa, tetapi pabukoan juga di berikan atau di hantarkan. Wanita separuh baya menjinjing pabukoan untuk di berikan kepada mertua/kerabat suaminya. Bagi pasangan muda lebih-lebih pengantin baru, dengan raut wajah dan dandanan kebaya serta pakaian muslim berkunjung kerumah mertuanya dengan penuh kegembiraan.

Meski saat ini tradisi “ ma anta pabukoan “ tidak lagi sekental suasana puluhan tahun lalu, namun pemandangan yang ini dikenal sebagai tradisi ‘ma anta pabukoan’ atau mengantarkan makanan ke rumah sanak keluarga terutama ke tempat mertua, masih merupakan tradisi ‘wajib’. Tradisi ‘ma anta pabukoan’ di berbagai daerah di Sumbar sangat beragam sebutannya, ada yang menyebutnya dengan “menganta konji” (mengantar penganan kolak), “babuko basamo jo mintuo” (berbuka bersama mertua) dan lain sebagainya.

Baik ‘ma anta pabukoan’ maupun ‘manganta konji’ tujuannya tetap sama yaitu mendekatkan silaturahmi antara keluarga, anak dengan orang tua, cucu dengan nenek dan istri dengan mertua.

Jenis Makanan yang dibawa :
Penganan yang dibawa ke rumah mertua tidak bisa berupa makanan yang sembarangan saja. Makanan tersebut harus yang pilihan dan memenuhi bebagai persyaratan., yaitu :
1. Makanan pokok
- rendang/dendeng
- gulai ikan,
- goreng ikan / ikan bakar,
- sup, dan
- kaliyo jengkol,
- penganan ringan serta buah-buahan.

2. Makanan ringan lainnya :

- cende (bubur beras yang dibuat bulat) atau
- konji (kolak), dan agar-agar.
- kue-kue cake (sejenis bolu) dan
- lemang pulut dengan tapai ketan hitam ( lamang tapai).

Tidak hanya ragam makanan yang harus dipersiapkan, tetapi bahan dan kualitasnya harus yang terbaik. Apabila membawa ikan bakar atau ayam bakar, maka ikan dan ayam tersebut haruslah yang terbesar.



Selengkapnya...

21/08/09

Randai


Randai adalah merupakan salah satu tradisi rakyat dari Minangkabau yang mencakup musik, bernyanyi, tari, drama dan seni beladiri silat. Randai biasanya dilakukan untuk upacara tradisional dan festival, dan kompleks cerita sejumlah malam.

Penampilan Randai adalah identik dengan beladiri seni tari, lagu, dan adegan. Cerita yang disampaikan oleh kedua akting dan bernyanyi dan sebagian besar berdasarkan legenda Minangkabau. Randai berasal di awal abad ke-20 dari lokal seni beladiri, menceritakan kinerja tradisi dan lainnya. Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlangsungnya acara tersebut.

Dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai bertujuan untuk menghibur masyarakat yang biasanya diadakan pada saat pesta rakyat.

Sekarang randai ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi kesenian atau kegemaran dari generasi tersebut. Randai terdapat di pasisia.
Selengkapnya...

20/08/09

Tari Piring..

Tari piring merupakan salah satu tarian daerah Sumatera Barat yang berasal dari daerah Solok. Tarian tersebut menggambarkan rasa kegembiraan dan rasa syukur masyarakat Minangkabau ketika musim panen telah tiba, dimana para muda mudi mengayunkan gerak langkah dengan menunjukkan kebolehan mereka dalam mempermainkan piring yang ada di tangan mereka.

Tarian ini diiringi lagu yang dimainkan dengan talempong dan saluang, yang dimana gerakannya dilakukan dengan cepat sambil memegang piring di telapak tangan mereka. Kadangkala piring-piring tersebut mereka lempar ke udara atau mereka menghempaskannya ke tanah dan diinjak oleh para penari tersebut dengan kaki telanjang.

Kesenian tari piring ini dilakukan secara berpasangan maupun secara berkelompok dengan beragam gerakan yang dilakukan dengan cepat, dinamis serta diselingi bunyi piring yang berdentik yang dibawa oleh para penari tersebut. Pada awalnya sejarah tari piring ini memiliki maksud dalam pemujaan masyarakat minangkabau terhadap Dewi Padi dan penghormatan atas hasil panen. Namun setelah masuknya ajaran islam ke daerah minangkabau maka tari piring hanya di perlihatkan untuk acara-acara saja seperti acara upacara adat, acara pernikahan, dan lain-lain.

Di luar Sumatera Barat tari piring ini sering di pentaskan seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru, dan banyak kota besar lainnya. Untuk di mancanegarapun tari piring sering di pentaskan serta ikut dalam festival kebudayaan untuk memperkenalkan kebudayaan minagkabau di mancanegara.

Di dalam sarana pendidikan para siswapun sering di pentaskan tarian ini. Saya pun supiak minang juga di ikut sertakan dalam pementasan tersebut. Dalam acara kesenian, pertemuan, serta perpisahan saya pun juga ambil andil sebagai penari. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi saya di ikut sertakan dalam acara-acara tersebut. Tidak cuma tari piring saja yang di pertontonkan ada juga tari pasambahan, tari payung, tari cewang,tari panen, dan banyak lainnya. Dan itu merupakan salah satu kebanggan bagi saya supiak minang bisa mempelajari dan ikut pementasan dari tanah kelahiranku ranah Minang nan tacinto.

Selengkapnya...