Untuk meneruskan postingan terdahulu mengenai gulai itiak cabe ijo, nah kali ini supiak akan melengkapi seperti ada yang kurang... hmm cara bikinnya gmna ya.. ga usah mikir dan nyari sana sini, berikut neh ya...
bahan-bahan :
cara membuatnya ;
Tumis bawang merah ,bawang putih,jahe lengkuas, daun-daun,kemudian masukkan cabe ijo ,setelah cabe sudah di rasa sudah masak, masukkan itik,mamasak dengan api sedang….tunggu sampai daging empuk
hmmm sepertinya enak tuh...selamat mencoba ya...
Selengkapnya...
12/08/10
Gulai itiak lado ijo
20/07/10
Tradisi Balimau
Apabila sudah mendekati bulan Ramadhan di kampuang nan tacinto sudah mulai di sibukkan dengan tradisi balimau. Mungkin tidak hanya di kampuang supiak di minangkabau saja yang memiliki tradisi balimau ini, di kampung seberangpun ada.
Kali ini supiak jadi teringat masa- masa waktu masih di bangku sekolah dahulu. Dimana supiak pun sempat merasakan atau mengikuti tradisi balimau. Jadi teringat masa-masa yang cukup berkesan di waktu itu. Supiak dan kakak-kakak perempuan beserta kedua orang tua dan tidak lupa mengajak sanak saudara lainnya, kami pergi balimau ke tempat yang lumayan cukup jauh yaitu ke Pantai Carocok Painan. Karena merasa belum pernah menjajaki daerah sejauh ini dari Bukittinggi, terbesitlah rencana untuk pergi ke pantai carocok Painan Sumatera Barat.
Berangkatlah pagi-pagi kami dari Bukittinggi, melewati lembah Anai karena tujuan utama kami adalah Pantai Carocok maka kami tidak sempatkan waktu untuk berhenti di lembah Anai ini. Sepanjang perjalanan supiak dan keluarga kami bersenda gurau untuk menghilangkan perasaan bosan di perjalanan.
Setelah cukup menempuh perjalanan yang jauh dari Bukittinggi ke Painan, maka sampai lah kami di Pantai Carocok. Dengan mengucap syukur dan bahagia supiak dan keluarga turun dan mulai menapaki jalan menuju tepian pantai. Yang menarik dari Pantai ini adalah air pantai ini ada kalanya surut dan pasang. Pantai nya masih asri dan banyak pepohonan dan pengunjung ke pantai ini terbilang masih sedikit, tidak seramai Pantai Padang, Pantai Pariaman, Pantai Pasir Putih, Pantai Air Manis, dan banyak lagi yang lainnya.
Hal yang unik dari pantai ini adalah bentuk pantainya memang mirip seperti carocok ( corong) hmm wajarlah pantai ini di beri nama pantai carocok karena memang bentuk pantainya serupa dengan carocok (corong). Kami sungguh beruntung saat itu karena air pantai sedang surut. jadi kami di beri kesempatan untuk pergi ke tengah pulau.
Supiak dan rombongan berjalan ke tengah pantai dengan air setinggi mata kaki. Dengan jarak beberapa meter dari tepian sampai lah supiak dan rombongan di tengah pulau kecil yang mana di pulau ini banyak pohon kelapa. Kami sekeluarga beristirahat di pulau tersebut. Dengan melepas lelah dengan perjalanan yang lumayan jauh. Kami sempatkan untuk makan siang di pulau kecil tersebut. Adapun bekal makan siang tersebut kami bawa dari Bukittinggi. Nasi yang lauknya telur rebus balado di bungkus dengan daun pisang. Hmmm bau nya sungguh membuat perut bertambah lapar. Lauk pauk yang lainnya pun tidak lupa di suguhkan waktu itu yaitu rendang daging, ayam balado goreng cabe merah. Betapa nikmatnya makan bersama waktu itu selain lauk pauknya, dengan nasi bungkus daun pisang di temani oleh angin pantai yang menyegarkan.
Kamipun tidak bisa berlama-lama di sana karena waktu air pasang pun segera tiba. kami kembali ketepian pantai dan kami pun melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid di sekitar untuk melaksanakan kewajiban shalat Zuhur.
Setelah shalat zuhur kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke Bukittinggi. Kami tidak lupa untuk singgah di Lembah Anai, serta singgah di Bika Mariana. Duh Perjalanan yang menyenangkan.
10/06/10
Malin Kundang si Anak Durhaka
Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.
Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.
Sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html
Selengkapnya...
01/06/10
Ketupat Ketan
Duh makanan lagi..ehehhe maklum lagi kangen sama kampung halaman nan jauh di mato. Nah kali ini ada yang menarik, yaitu ketupat ketan. uihhhhhh
Makanan ini cukup unik karena selain beras ketan di buat untuk Lamang, tetapi bisa di sajikan dalam bungkus ketupat. Cara membuatnya pun tidak jauh berbeda dengan lamang. nah berikut
bahan-bahannya ;
* 16 selongsong/bungkus ketupat, anyaman harus rapat agar hasil ketupat bersih tidak ada noda garis-garis coklat/merah
* 1000 gr beras ketan, cuci hingga benar-benar bersih, rendam selama 2 jam, kemudian tiriskan
* 11 lt air bersih
* 2 sdm garam
* 2 lt santan
Cara Membuat :
* Masukkan beras ketan ke dalam selongsong hingga 75%.
* Rebus santan, air dan garam sampai mendidih.
* Masukkan ketupat hingga terendam, rebus selama 6 jam.
* Angkat, tiriskan dengan jalan digantung atau diletakkan di atas saringan anyaman bambu.
* Selama perebusan, jika air menyusut, tambahkan air yang sudah mendidih bukan air dingin. Jaga agar semua ketupat terus terendam air yang mendidih.
Ya sudah selamat mencoba membuatnya deh..ehehehe.. o iya, makanan ini bisa di hidangkan dengan durian,pisang goreng dan lainnya.
12/05/10
Los Lambuang
Bagi yang pernah datang atau berkunjung ke daerah Bukittinggi maka tidak akan asing mendengar kata-kata "Los lambuang". Apalagi kalau anda orang bukittinggi asli. Bagi yang belum tahu, nah di sini supiak akan informasikan bahwa Los lambuang itu adalah merupakan tempat orang menjual makanan khas minang kabau yaitu nasi kapau dan ketupat.
Nah untuk tempat los lambuang ini berada yaitu di dekat pasar lereng pasar Bukittinggi. Masakan di tempat ini adalah masakan asli khas bukittinggi. Sebut saja nasi kapau merupakan nasi ramaskhas nagari Kapau, Sumatera Barat, yang terdiri dari nasi, sambal, dan laukpauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kakikerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulaibabek (paruik kabau),usus(tambusu) dan lain sebagainya.
Kapau adalah nama tempat. Nama sebuah nagari, Nagari Kapau, Kecamatan TilatangKamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Letaknya sekitar lima kilometer dari Bukittinggi. Dari Bukittinggi ke Payakumbuh lewat Jalan Soekarno-Hatta. Sampai simpang empat Tanjung Alam, beloklah ke kiri. Anda sudah memasuki kawasan Kapau. Udaranya jernih dan segar. Hamparan sawah di mana-mana mengepung Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.
Selain nasi kapau di Los lambuang ini juga ada ketupat pical. Makanan ini merupakan salah satu makanan favorit supiak waktu jaman sekolah dahulu. Dahulu sepulang sekolah apabila ada keperluan ke pasar atas, masih di sempatkan untuk singgah di Los lambuang untuk makan ketupat pical. Hmmm lama-lama jadi kepengen lagi, tapi bagaimana yaaaa.....
Los Lambuang tidak pernah sepi oleh pengunjung. Terkadang apabila ingin makan di sana mesti ngantri nunggu orang lain selesai makan. Yang terbilang cukup rame apabila hari rabu,sabtu apalagi liburan.
Nah bagi yang ingin jalan-jalan ke kota Bukittinggi maka Los Lambuang patut di jadikan referensi tempat yang dijamin tidak akan kecewa.Semoga saja.
05/04/10
Bordir khas bukittinggi
Tak asing di dengar kalau anda merasa pecinta koleksi hasil produksi2 khas daerah. Nah yang satu ini yang ingin supiak bahas adalah tentang bordir, bordir khas bukittinggi. Apabila anda datang dan main ke pasar tradisional di bukittinggi di pasar atas, akan banyak anda temukan hasil jahitan yang di jahit pada sebuah kain dengan mengikuti motif yang di gambarkan. Ada yang paling terkenal adalah bordiran krancang.
Bordiran kerancang khas bukittinggi identik dengan "lubang lubang".Pembuatan kerancang ini adalah suatu proses yang rumit serta menyita waktu. Seorang pembordir harus memperhitungkan “tarikan” benang ke kain ( bahan dasar ). Apabila tarikan benang terlalu tegang, maka kain disekitar kerancang akan “mengkerut”. Apabila tarikan benang kurang tegang, maka jalinan kerancang akan tidak “padat” dan “rapat”, serta mudah putus karena ketegangan benang bordir tidak sama.
Selain itu, dalam pembuatan kerancang yang berukuran kecil, seorang pembordir harus memperhatikan ukuran jalinan antar kerancang, karena pembuatan kerancang adalah suatu proses yang memiliki “point of no return“. Jalinan kerancang tersebut sebenarnya terdiri dari jalinan benang bodir serta bagian bahan dasar yang dipilin untuk menjadi tepi kerancang. Apabila jalinan ini putus, maka hal ini tidak bisa diperbaiki karena bahan dasar yang terpilin untuk membentuk jalinan kerancang tersebut juga ikut terputus ( robek ). Juga kerancang kerancang ini haruslah dibuat dengan mengikuti ukuran serta jalur ( path ) dari disain bordir secara keseluruhan. Sedikit saja terjadi kesalahan perhitungan maka jalur disain bordir tidak akan bisa dipertemukan dengan tepat sehingga hasil bordiran akan terlihat “senjang” (timpang)
Saking rumitnya pembuatan bordir kerancang halus khas Bukittinggi ini, seorang kolega dari Qatar menyebut bahwa bordiran ini bukan sekedar bordiran, tapi sudah merupakan karya seni (piece of art), yang bukan saja amat pantas untuk dipakai, tapi juga pantas digunakan sebagai hiasan rumah.
Dahulu proses pembuatan bordir kerancang halus ini sepenuhnya dikerjakan dengan tangan ( 100% purely handmade ). Tingkat kesalahannya tinggi karena manusia memiliki faktor kelemahan daya tahan serta kelelahan, apalagi mengerjakan sesuatu yang rumit dan serba kecil kecil. Untuk mendapatkan bordiran yang 75 % error free bisa memakan waktu hingga tiga bulan bahkan lebih. Namun rumitnya proses serta lamanya waktu pembuatan sebanding dengan keindahan bordiran yang dihasilkan.
Oleh karena proses pembuatannya yang rumit, tingkat kesalahan yang tinggi serta menyita waktu, sementara permintaan akan bordir kerancang sangat tinggi, belakangan muncul ide untuk membuat “kerancang instant”, yaitu dengan membuat jahitan secara mengeliling membentuk lingkaran, segi empat atau segitiga, kemudian bagian tengah dari lingkaran tersebut ditusuk dengan menggunakan solder panas ( alat untuk mematri ). Hasil tusukan solder panas ini akan meninggalkan lubang yang akan terlihat seperti kerancang.
Hasil bordiran ini bisa di bentuk, atau dijadikan mukena,jilbab,baju dan banyak lainnya.
Sumber : http://bordir.wordpress.com/2007/05/07/bordir-kerancang-halus-khas-bukittinggi/
Selengkapnya...
09/03/10
Dendeng batokok
bahan: bumbu daging (dihaluskan): saus balado: cara membuat: panaskan pemanggang pada suhu 200oC, kemudian tokok2 irisan daging pelan2 dg cara memukul dg batu lado(cabe), atur potongan dendeng diatas tempat pemanggang yg telah dialasi kertas roti, panggang +15-20menit atau sampai warna dendeng coklat kegelapan, atur di piring saji, sisihkan. tumbuk kasar cabe hijau dan bawang merah, tumis sampai cukup layu, tambahkan sisa rebusan daging, didihkan. masukan irisan tomat dan jeruk air nipis, aduk rata, cicipi dan bubuhi garam sesuai selera, lanjutkan memasak sebentar, angkat.
Duh ko tumben banget jadi kepengen sama masakan yang satu ini. Uih Dendeng batokok. Bagi orang minang masakan yang satu ini sudah tentunya tidak asing lagi. Jadi tambah kepengen deh..
Dendeng batokok ini adalah salah satu masakan minang yang dagingnya di tipiskan dengan cara di tokok ( di pukul). Dagingnya dari daging sapi.
Berikut resep dari "Dendeng batokok"
500g daging sapi, potong 6-8bagian agar cepat matang
300ml santan encer (pengganti air kelapa)
1sdm ketumbar bubuk
5siung bawang putih
1ruas jari jahe
2sdt garam
3 sdm margarin untuk menumis
100g cabe hijau
8 siung bawang merah
50ml kaldu dari sisa rebusan daging
1 bh tomat merah ukuran besar, iris2
1 sdm air jeruk lemon /nipis
campur daging dengan bumbu yang telah dihaluskan, diamkan sebentar.Didihkan santan, masukan potongan daging, masak sampai santan agak kering sambil sesekali diaduk (sisakan 50ml rebusan daging untuk campuran saus balado), keluarkan potongan daging dan iris2 mengikuti seratnya.
01/03/10
Suntiang..
Dalam alek di minangkabau pada umumnya pengantin perempuannya menggunakan suntiang. Suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia.
Tak hanya perbedaan bentuk dan ornamen, memakai suntiang kerapkali juga salah satu yang ditakutkan calon pengantin perempuan Minang. Suntiang yang beratnya bisa mencapai 3,5 kg dan mesti dikenakan di kepala selama pesta berlangsung umumnya sehari-semalam, membuat si calon pengantin perempuan yang disebut ‘anak daro' was-was dan cemas akan tidak sanggup menjalankannya. Apalagi pada zaman dulu. Suntiang yang besar itu, bahkan beratnya sampai 5 kg bahkan ada yang terbuat dari emas.
Secara garis besar jenis suntiang ini adalah sbb :
1. Suntiang bungo pudieng (suntiang berbunga puding)
2. Suntiang pisang saparak (suntiang pisang sekebun)
3. Suntiang pisang saikek (suntiang pisang sesisir)
4. Suntiangkambang loyang (suntiang pisang sesisir)
Dari segi ikat (dandanan) dengan segala variasinya suntiang ini dapat pula dibedakan, suntiang ikat pesisir, suntiang ikat Kurai, suntiang ikat Solok Selayo, suntiang ikat Banuhampu Sungai Puar, suntiang ikat Lima Puluh Kota, suntiang ikat Sijunjung Koto Tujuh, suntiang ikat Batipuh X Koto, suntiang ikat Sungayang, dan Lintau Buo. Suntiang ikat bungo pudieng banyak dipakai didaerah Batipuh Tanah Datar. Suntiang pisang separak banyak dipakai didaerah Luhak Lima Puluh Kota, Solok, Sijunjung Koto Tujuh, dan Sungai Pagu. Suntiang pisang sasikek banyak dipakai di daerah Pesisir. Suntiang kambang loyang banyak dipakai di daerah lain.
Perlengkapan pakaian adat Limpapeh Rumah Nan Gadang dibuat oleh orang Minangkabau sendiri. Ada daerah yang cukup terkenal dengan pandai sulam ini di Minangkabau seperti Padang, Pariaman, Tanjung Sungayang, Batipuh Bunga Tanjung, Koto Gadang, Payakumbuh. Sedangkan Pandai Sikat terkenal dengan tenunan kain upieh (kain balapak).Suntiang sendiri sebenarnya dibuat sekelompok perajin.
(Sumber : Sejarah dan Budaya Adat Minangkabau)
Selengkapnya...
19/02/10
Lah lamo ga basobok
Alhamdulillah ga taraso kini lah 2010 sajo. Indak taraso se. Alhamdulillah sampai saat kini masih di agiah umua panjang jo diagiah kesempatan untuk manjalani hidup.
Cukup lumayan lamo indak ado manorehkan kato-kato di blog ko, indak taraso lah rindu pulo kironyo. Lah lamo ga basobok itulah kato-kato yang agak cocok. Ya mudah-mudahan iko awal yang baru untuak supiak mamulai aktif di blog iko.
Selengkapnya...
03/11/09
seorang teman
Dari maso batamu baliak mambuek hari-hari lumayan tanang. Tarimo kasih yo sobat yang slalu agiah dukungan dan saba mahadapi sifat supiak yang suko labil.
Mudah-mudahan kedekatan awak salalu di berkahi Allah swt.
21/10/09
Logat Piaman
Apo yo ota nan kalamak kini ko yo. Ups iyo. Patang ga sangajo supiak cari-cari di internet baa bana logat bahaso minangko. Dari sekian banyak nan di dapek logat piaman nan banyak muncul..hehehe..
Ahh rancak juo ko untuak di baco-baco. Sadang mambaconyo supiak agak tagalak-galak jo senyum surang se, antah a nan ka disabuik. Di salah satu website forum rang piaman tu urang-urangtu bagurau jo bahaso piaman. Nde karano supiak rang bukik alias rang bukiktinggi jd agak susah juo manangkok apo mukasuiknyo..ahhaha.. klo tulisan masih bisa di baco baulang-ulang supayo mangarati kalau urang piaman nan mangecek antah baa lai, yo susah di mangarati..hehehe
Itulah minagkabau nan banyak macamnyo.
Jadi ingek waktu rayo idul fitri patangko, supiak diajak kawan samaso sakola dulu karumah dunsanaknyo dakek pasar minggu jakarta selatan. Kawan supiak ko keturunan pariaman sungai sariak, jadi tantulah dunsanak kawan supiak ko urang piaman. Kecek kawan supiak ko karumah ajo wak nah..hehehh ondeh yo rang piaman wee mah.hahaha
Sasampai di tampek ajo tu. Mulailah ajo tu bacarito.ondeh yo paniang supiak dek nyo, memang samo-samo urang awak tapi ondeh yo baa ko payah antena supiak manangkok hahah alias mangarati mukasuik carito ajo tu.
Kawan yang memang keturunan rang piaman ko yo tagalak mancaliak supiak agak susah manangkok.hahaha.. sampai-sampai di ulang carito ajo tu baliak..hehehe...
Kadang supiak acok tagalak mandanga dunsanak kawan yang mangecek logat piaman, sampai-sampai kawan supiak ko mangecek ka supiak "eee jan digalakan dapek ughang piaman wee beko.." hahahaa
Begitulah logat piaman yang unik dan mengasikkan kalau di danga, itu sih bagi supiak gatau ya bagi kawan-kawan yang lainnya.
20/10/09
Gempa ..
Tidak habis fikir oleh saya supiak minang, teringat pada saat kejadian gempa di ranah minang yang berpusat di pariaman itu, saya yang sedang bekerja di daerah sudirman jakarta lt 24 juga merasakan goncangan tersebut. Betapa hebatnya goncangan pada saat itu. Saya yang merasakan agak sedikit trauma, apalagi saya berada pada ketinggian. Memang kekuatan gempa yang saya rasakan pada waktu itu tidak sehebat goncangan pada saat gempa tasikmalaya, tetapi saya cukup trauma.
Saya cukup prihatin bagaimana kondisi jiwa rekan- rekan yang berada pada daerah pusat gempa tersebut. Tentunya merasakan trauma yang cukup mendalam, apalagi sampai anggota keluarga menjadi korban.
Kita hanya manusia biasa, kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan kita selalu di beri keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah swt, baik gempa ataupun bencana lainnya itu kita tidak dapat mengelaknya.
19/10/09
Ranah minang berduka
Tidak cuma harta benda yang menjadi sasaran, nyawa pun juga menjadi ancaman. Salah satu website memaparkan gambar-gambar pada kejadian gempa tersebut, yaitu http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html
Banyak isu-isu yang beredar sehingga mengaitkan kejadian gempa tersebut dengan Al Quran. Salah satu teman mengirimkan ke email saya yang isinya berikut ;
Jam Gempa & Klenik Nomor Ayat Al-Quran
Ternyata penomoran surat dan ayat di Al-Quran bukan ditetapkan langsung dari langit. Penomoran itu dilakukan oleh manusia, sebagaimana perbedaan penulisan teks Al-Quran di sekian banyak mushaf yang pasti berbeda jumlah halamannya. Lafadz Al-Quran itu memang dari Allah, tetapi penomoran surat dan ayat hanya buatan manusia, meski tetap berdasarkan petunjuk dari Rasulullah SAW. Tetapi penomoran itu tidak baku, sangat mungkin berbeda dan bervariasi.
Sebuah SMS masuk ke P1i SonyEricsson saya. Entah siapa yang mengirim, saya tidak tahu karena namanya tidak tercatat di phonebook. Tapi isi SMS itu menarik untuk direnungkan. Orang di seberang sana bertanya, bolehkah mempercayai SMS dan kabar yang beredar bahwa ternyata ada kesesuaian antara waktu terjadinya gempa di Padang dan Jambi dengan nomor ayat di Al-Quran.
SMS yang banyak beredar menyebutkan bahwa gempa Padang terjadi pada jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Konon angka-angka itu kalau dicocokkan dengan nomor surat dan ayat Al-Quran ternyata terkait dengan bencana. Lalu ramailah pembicaraan seolah-olah Al-Quran menyimpan informasi tentang gempa bumi dan data jam kejadiannya.
Contoh Pertama :
Gempa di Padang terjadi jam 17.16. Kalau kita buka Al-Quran pada surat yang ke-17 ayat ke-16, kita akan dapati terjemahannya sbb):
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Oleh banyak orang, ayat yang bercerita tentang penghancuran suatu negeri ini ada kaitannya dengan gempa di Padang, karena nomor ayat dan suratnya cocok dengan jam kejadiannya, yaitu jam 17:16.
Contoh Kedua :
Gempa susulan di Padang terjadi pada jam 17.58. Kalau kita buka surat ke-17, Al Israa’ ayat 58, kita akan menemukan terjemahanannya sbb :
“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”
Wah, kok kayak kebetulan ya, kok ngepas sekali ayat itu dengan jam kejadian gempa susulan?, kira-kira begitu kita diajak berpikir. Apalagi masih ditambah dengan info yang berikutnya :
Contoh Ketiga
Gempa di Jambi hari berikutnya terjaid pada pukul 8.52. Surat ke-8 itu adalah Surat Al Anfaa. Kalau kita buka ayat nomor 52, terjemahannya sbb :
“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Jawaban
Saat menerima SMS itu saya tidak langsung menjawab, sebab memang dalam posisi yang tidak siap untuk menjawab, apalagi hanya pakai SMS. Tapi kemarin ketika meyampaikan ceramah di Majelis Taklim Telkomsel Gatot Subroto, ada pertanyaan serupa yang membuat saya tidak bisa mengelak untuk menjawab.
Jawaban saya adalah bahwa intinya hal itu tidak benar. Sangat tidak benar bahkan. Kenapa? Ada banyak ketidak-sesuaian dan ketidak-sambungan logika kalau mau dipaksa-paksakan.
Pertama : Al-Quran Tidak Mengenal Jam
Sistem penghitungan waktu yang dikenal Al-Quran hanya penghitungan hari, bulan dan tahun. Adapun sistem penghitungan waktu dengan jam yang kita gunakan saat ini, hanya buatan manusia. Berlakunya hanya berlaku di zaman kita ini saja.
Pada saat Al-Quran diturunkan 14 abad yang lalu, manusia belum mengenal pembagian waktu yang sehari 24 jam. Di satu sisi, Al-Quran adalah kitab yang abadi, sementara penggunaan sistem waktu dan jam akan selalu berubah. Bagaimana mungkin Al-Quran menyimpan pesan yang hanya dikhususkan untuk satu zaman saja?
Di masa mendatang boleh jadi kita akan meninggalkan sistem penghitugan jam yang sekarang ini dengan sitem yang lain. Kalau sehari sekarang ini kita hitung menjadi 24 jam, boleh jadi kapan-kapan kita buat menjadi 100 jam dengan ukuran sama yaitu sehari semalam.
Atau boleh jadi kita akan menggunakan sistem jam bintang (baca:stardate) seperti yang diperkenalkan dalam serial film StarTrek. Kalau pakai stardate, gempa di Padang yang jam 17:16 itu adalah -313252.8234398783. Masih minus karena stardate baru akan dimulai pada 1 Januari tahun 2323.
Lalu siapa yang menetapkan bahwa satu hari terdiri dari 24 jam, 1 jam terdiri dari 60 menit, dan 1 menit terdiri dari 60 detik? Yang pasti ketentuan itu tidak datang dari langit sebagai wahyu. Konon besaran itu diambil dari peradaban Babylonia yang mengenal sistem penghitungan sexagesimal yang berbasis angka (60). Sedangkan istilah `jam` konon sudah digunakan oleh peradaban Mesir kuno sebagai 1/24 dari mean matahari.
Yang jadi pertanyaan, apakah Al-Quran mengakui hitungan-hitungan itu lalu menyelipkan informasi di sela-sela nomor ayat? Kok jadi mirip film X-files?
Kedua : Jam Kita Adalah Jam Politis
Selain Al-Quran tidak mengenal penghitungan waktu dengan jam, pada dasarnya sistem jam yang kita gunakan ini bersifat politis. Gempa di Padang itu hanya dianggap terjadi pada jam 17:16 kalau menurut hitungan waktu Indonesia Bagian Barat. Karena Padang itu terdapat di wilayah NKRI.
Tapi seandainya -ini hanya seandainya- kota Padang itu bukan bagian dari Negara Indonesia, tentu gempa tidak terjadi pada jam 17:16, tetapi bisa saja malah jam 18:16 atau jam 16:16. Semua tergantung kebijakan pemerintahannya.
Kok gitu?
Ya memang begitu. Mari kita buat pengandaian. Seandainya kota Padang itu bagian dari Singapura, maka kejadian gempa itu pastinya bukan jam 17:16, tetapi jam 18:16. Sebab meski letaknya lebih di Barat dari Jakarta, tapi secara kebijakan Pemerintah Singapura menetapkan jam mereka lebih dulu dari Indonesia. Kalau Jakarta atau WIB itu GMT+7, ternyata Singapura malah GMT+8.
Padahal posisi Singapura lebih ke Barat dibandingkan Jakarta. Seharusnya Jakarta lebih dulu dari Singapura. Tapi sekali lagi karena ini hanya urusan politis dua negara yang beda pemerintahan, maka akhirnya Singapura yang lebih dekat ke kota Padang malah punya jam yang lebih dulu dari jam Jakarta.
Jadi angka 17:16 yang katanya merupakan surat ke-17 ayat ke-16, kalau dikait-kaitkan dengan jam kejadian gempa Padang, tentu 100% dusta, hanyalah ilusi, hayal, dan tidak tepat. Kenapa? Karena penetapan hitungan jam itu bersifat nisbi.
Salah satu bukti bahwa penetapan jam itu semata-mata politis adalah kalau kita berada di negeri sub-tropis. Setiap ganti musim baik dari musim panas ke musim dingin atau sebaliknya, pemerintah punya kebijakan untuk mengubah atau melompat jam secara massal. Yang tadinya jam 07.00 pagi, secara massal di bawah perintah penguasa, rakyat diminta mengubah jamnya jadi jam 08.00. Heboh kan?
Konon sejarah gonta-ganti jam ini belum lama. Awalnya dimulai pada saat krisis minyak pada tahun 1970-an. Waktu krisis minyak tersebut, harga minyak menjadi berlipat ganda dan minyak pun menjadi barang langka. Berhubung minyak diperlukan untuk seluruh industri dan berbagai keperluan sehari-hari lainnya, pemerintah Swiss (dan beberapa negara Eropa lainnya, kalau nggak salah) memutuskan memajukan satu jam.
Dengan cara itu berarti negara ini menghemat satu jam pemakaian minyak, lantaran satu jam dianggap hilang. Jadi kalau ditetapkan pada tanggal sekian waktu dimajukan satu jam pada jam 12 malam, pada waktu jam menunjukkan 24.00, semua jam dimajukan menjadi jam 01.00. Ini artinya waktu antara 24.00-01.00 tidak eksis alias hilang.
Tapi kemudian `hilang`-nya waktu ini pun diganti pada waktu pergantian jam di musim dingin, dengan diundurnya waktu selama satu jam. Artinya kalau tanggal X harus ganti waktu musim dingin pada jam 12 malam, sewaktu jam menunjukkan pukul 24.00, seluruh jam diundur menjadi 23.00. Artinya waktu 23.00-24.00 berulang dua kali, dua jam. Impas kan. Ribet ya?
Tapi intinya saya cuma mau bilang bahwa penghitungan jam itu sangat nisbi dan sangat politis. Tidak layak Al-Quran memberi informasi berdasark kebijakan politis sebuah pemerintahan.
Ketiga : Sistem Penomoran Ayat Quran Cuma Ijtihad Manusia
Lafadz Al-Quran memang dari Allah SWT yang sampai kepada kita sepanjang 14 abad dengan proses periwayatan yang mutawatir. Tetapi urusan penomoran ayat-ayatnya ternyata tidak merupakan ketetapan dari Allah SWT.
Karena itulah kita menemukan para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah total ayat Al-Quran. Ternyata jumlahnya yang konon 6.666 ayat itu malah tidak ada rujukannya. Cobalah iseng-iseng ambil kalkulator lalu jumlahkan semua ayat yang ada di 114 surat, hasilnya pasti bukan 6.666.
Lho kok?
Nah, biar mudahnya silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang jumlah total ayat Al-quran, silahkan klik di link ini.
Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Al-Quran. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushfah yang tipis dan sedikit mengandung halaman, tapi juga ada mushfah yang tebal dan mengandung banyak halaman.
Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi SAW bahwa Al-Quran itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu.
Lalu apa kaitannya dengan tema yang kita sedang bahas?
Kaitannya adalah bahwa nomor ayat itu juga bersifat nisbi. Kalau angka jam digital menyebutkan 17:16, lalu dianggap itu merupakan kode isyarat nomor surat dan ayat di Al-Quran, maka nomor itu mau menggunakan versi yang mana?
Kalau pakai mushaf yang umumnya kita pakai memang barangkali ada kebetulannya untuk cocok, tetapi kita harus ingat bahwa ada berjuta jenis dan versi mushaf di dunia ini, dimana nomor surat dan ayat 17:16 belum tentu terkait dengan musibah gempa.
Keempat : Al-Quran Bukan Buku BMG
Al-Quran sejak awal diturunkan tidak pernah disebutkan mengandung informasi dunia teknologi. Apalagi hanya dikaitkan dengan nomor-nomor surat atau nomor-nomor ayat di dalamnya. Nomor-nomor itu 100% buatan manusia, sama sekali tidak datang dari Allah SWT. Jadi kalau dipercayai sebagai bagian dari wahyu, sungguh sebuah kekeliruan yang fatal.
Memang benar bahwa Al-Quran adalah kitab petunjuk, tetapi tentu saja bukan petunjuk yang terkait dengan hal-hal teknis. Kita tidak akan menemukan tatacara membangun gedung, membikin mobil, menangkap ikan, menanam padi di sawah, atau mengetahui kapan terjadi bencana alam. Jelas sekali Al-Quran tidak diturunkan untuk kebutuhan seperti itu.
Kalau Al-Quran diyakini sebagai buku referensi teknologi, berarti kita secara tidak langsung telah menuduh Nabi Muhammad SAW telah zalim atau tidak mengerti Al-Quran.
Kok gitu?
Ya, karena Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang sah ditugaskan untuk menjelaskan isi Al-Quran, bahkan disebutkan bahwa beliau adalah Al-Quran yang berjalan. Kalau di dalam Al-Quran itu ada info tentang kapan terjadi bencana alam, lalu Nabi SAW diam saja tidak bilang apa-apa, berarti Nabi SAW itu zalim, karena tidak memberikan peringatan dini. Itu kalau kita anggap Nabi SAW tahu semua isi Al-Quran.
Tapi kalau kita bilang bahwa Nabi SAW tidak tahu ada informasi seperti itu di dalam Al-Quran, maka kita juga telah menuduh yang salah kepada beliau. Masak ada info tentang gempa di dalam Al-Quran, Nabi SAW malah tidak tahu? Lalu buat apa jadi nabi? Nabi kok tidak tahu info dalam Al-Quran?
Lebih parah lagi, kenapa Allah SWT terkesan `menyembunyikan` info akan terjadi gempa di dalam Al-Quran? Apakah Al-Quran itu merupakan buku teka-teki? Apakah kita disuruh untuk bermain puzzle dengan nomor ayat Quran? Untuk itukah Quran diturunkan?
Betapa naifnya kalau memang begitu. Quran kitab yang agung itu ternyata tidak lebih hanya dijadikan buku teka-teki yang angka di dalamnya diotak-atik, mirip orang kecanduan judi buntut.
Astaghfirullahal- Adzhiem.
sumber : http://www.ustsarwat.com/web/berita-42-jam-gempa--klenik-nomor-ayat-alquran.html
Selengkapnya...
01/10/09
Gempa..
Tidak hanya ranah minang yang di goncang oleh gempa, daerah lain pun ikut merasakan getaran tersebut. Ini baru kiamat kecil,baru peringatan kecil dari sang Pencipta. Mudah-mudahan kita semakin dekat dengan sang pencipta.
Saya pribadi supiak minang turut berduka cita atas meninggalnya para korban gempa yang dari berita terakhir saya baca sudah mencapai 200 orang.Mudah-mudahan di beri ketabahan.
Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari Anda, kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi apabila Anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapan-Nya.
"Barang siapa kuambil dua kekasinya(mata) tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua(mata)nya itu dengan surga".(Al Hadist)
dan
"Barangsiapa Kuambil orang yang dicintainya di dunia tetap mengharap ridha(Ku), niscaya Aku akan menggantinya dengan surga".(Al Hadist)
25/09/09
Hari Rayo Idul Fitri
Bagi orang perantau, khususnya orang minangkabau saat ini lah saat yang tepat untuk berkumpul dengan sanak keluarga, bersilaturahim dengan sanak keluarga lainnya. Dari setelah menjalankan shalat Id, semua bersalam-salaman memohon maaf apabila sebelumnya menyakiti atau sempat membuat orang lain berkecil hati. Dengan niat yang tulus memberi maaf dan memaafkan.
Hari raya Idul fitri 1430 H kali ini saya supiak tidak dapat berkumpul dengan keluarga di kampung. Di karenakan Allah belum mengijinkan. Dari mendengar cerita sanak keluarga syukur alhmdllah semua sanak keluarga di kampung sehat wal'afiat dan berkumpul menyambut hari yang fitri ini.
Di karenakan hari yang fitri ini hari yang sangat di tunggu maka para perantau sangat banyak berdatangan dengan membawa keluarga lainnya, sehingga yang biasanya kota Bukittinggi lancar menjadi penuh dengan kendaraan dan para perantau. Dari yang biasanya untuk menempuh perjalanan dari kota padang ke Bukittinggi kurang lebih 1,5 jam sekarang menjadi 4 hingga 6 jam.
Kenapa kota Bukittinggi menjadi begitu macet, ternyata para pendatang apabila ingin berpergian ke daerah pekanbaru riau, atau hendak ke batusangkar, ataupun hendak ke medan mereka memilih singgah ke kota Bukittinggi untuk mengunjungi tempat wisata dan membeli oleh-oleh khas daerah ini. Kenapa daerah ini menjadi pilihan untuk berwisata karena daerah ini sejuk, masih asri dan memiliki makanan yang khas salah satunya seperti gulai itik cabe ijo .
Ini merupakan hal yang biasa terjadi dalam menyambut Hari raya Idul Fitri di ranah Minang.
24/09/09
Memulai
14/09/09
Pulang kampuang
Kebetulan sekali beberapa hari lagi tradisi pulang kampuang ini akan mulai banyak. Para perantauan baik dari mana pun akan pulang ke tanah kelahiran masing-masing. Dari jauh-jauh hari tradisi berlebaran di kampuang ini di laksanakan para persatuan orang-orang minang di perantauan mengadakan pulang basamo. Sebegitu eratnya darah minang pada diri perantauan membuat mereka sangat ingin bersama-sama pulang kampuang dengan orang-orang minang lainnya. Kenapa ini gencar sekali di adakan oleh persatuan orang-orang minang di perantauan yaitu untuk mendekatkan antar orang minang yang perantauan yang satu dengan orang minang perantauan yang lainnya.
Hmm
Bagaimana dengan supiak kali ini. Amat di sayangkan supiak tidak dapat berlebaran di kampuang halaman kali ini. InsyaAllah kalau ada waktu yang tepat, masih di kasih umur panjang supiak akan pulang ke kampung halaman nan ta cinto yaitu Bukittinggi.
08/09/09
Pepaya kuah basantan
Di karenakan saya tidak selalu di ajak mama ke pasar tentunya pun saya tidak selalu menyicipi pepaya berkuah santan ini. Karena saya sangat menyukai pepaya kuah santan ini, sembari pulang sekolah yang kebetulan sekolah saya berdekatan dengan pasar bawah bukittinggi maka saya langsung membelinya dengan pepaya di pisahkan dengan kuahnya yaitu kuah santan.
Di dalam keluarga tidak cuma saya saja yang menyukai makanan ini. Selain menyegarkan pepaya ini merupakan salah satu buah-buahan yang berkhasiat membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh.
Sewaktu-waktu apabila saya menginginkannya saya dapat membuat pepaya kuah santan ini. dengan cara ;
1/2 buah pepaya ukuran sedang
200 ml air santan kental(pati santan)
300 ml air
Gula pasir secukupnya
Garam sedikit
Vannili secukupnya
dan
- keruk pepaya dengan sendok, atau cetakan es buah
- rebus semua bahan kuah sampai mendidih kecil...matikan
- dinginkan kuah santan
apabila anda ingin campurkan dengan es bisa juga. Untuk penyajian pepaya dan santan di pisah supaya tahan lama.
Nah selain rasanya yang segar pepaya mengandung banyak khasiat untuk tubuh kita. Jadi kenapa tidak saya menjadikan pepaya berkuah santan ini menjadi menu favorit saya.
07/09/09
Nasi goreng padang
Memang ada banyak orang-orang yang menjual nasi goreng, gado-gado, soto padang, teh talua tetapi untuk rasa yang bener-bener asli dan cocok di lidah saya ya yang satu ini.
Penjualnya memang orang minangkabau asli. Kenapa saya berkata seperti itu karena si penjualnya saya ajak berbiacara bahasa minang beliau menjawabnya dengan bahasa minang juga. Kenapa saya tambah yakin ini orang minangkabau asli karena dari logat dan irama bahasa minangnya saya tau sipenjual asli daerah minang bagian mananya.
Teman saya ini sudah lama berlangganan dengan si penjual ini. Pak ujang namanya. Pada saat pertama kali saya ketempat pak ujang ini saya memesan nasi goreng. Saat saya makan nasi goreng ini saya serasa berada di tanah kelahiran saya.
Setelah itu saya jadi ketagihan, apabila saya berpergian saya selalu makan ke tempat pak ujang ini. Sampai-sampai pada saat kakak perempuan saya dari bukittinggi datang berkunjung saya ajak untuk mencoba makanan di tempat pak ujang ini. Kata-kata pertama yang terucap oleh kakak perempuan saya saat mencicipi nasi gorengnya adalah wah serasa makan di daerah sendiri, yaitu di bukittinggi.
Bagaimanapun itu yang terpenting akhirnya saya telah menemukan juga di mana pak ujang berjualan dan saya pun sering berbuka puasa di sana. Akhirnyaaaa...
03/09/09
Lapek Sagan
Saya pribadi sangat menyukai makanan ini, karena lapek sagan ini lain dari yang lainnya. Terkadang apabila ada acara kumpul keluarga, lapek sagan ini juga di suguhkan. Dalam keluarga saya pun pada saat berbuka puasa terkadang lapek sagan ini di suguhkan.
Anda penasaran..hmmm.... berikut caranya;
Bahan :
250gr ketan putih, rendam dengan air selama 4 jam, tiriskan, kukus 15 menit dalam dandang
1 butir kelapa parut, pilih yang agak muda
100 gr gula pasir
2 batang pisang tanduk (kira-kira 400gr pisang tanpa kulit), haluskan, lebih enak yg sudah matang sekali
1 sdt vanilla
½ sdt garam
Daun pisang, potong-potong sebesar bungkusan nagasari atau lapek bugih
Cara membuat:
1. Aduk rata semua bahan jadi satu, ambil 1-2 sdm adonan letakan diatas daun pisang, bungkus . 2. Susun dalam dandang, kukus, sampai matang
Lapek sagan ini biasanya di jadikan makanan sampingan, makanan pendukung atau di anggap makan cemilan.